Monday, March 26, 2007

KELENTENG SAM PO KONG DI SEMARANG

Di kalangan keturunan Tionghoa di Indonesia, khususnya di Semarang, tersiar cerita mengenai kedatangan armada Cheng Ho di Semarang, Jawa Tengah. Ceritanya kira-kira demikian:
Pada pertengahan pertama abad ke-15, Kaisar Zhu Di Dinasti Ming Tiongkok mengutus suatu armada raksasa untuk mengadakan kunjungan muhibah ke Laut Selatan. Armada itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) dibantu oleh Wang Jinghong (Ong King Hong) sebagai orang kedua.
Ketika armada berlayar di muka pantai utara Jawa, Wang Jinghong mendadak sakit keras. Menurut perintah Cheng Ho, armada itu singgah di pelabuhan Simongan (kemudian bernama Mangkang), Semarang. Setelah mendarat, Cheng Ho dan awak kapalnya menemukan sebuah gua. Gua itulah dijadikan suatu tangsi untuk sementara. Dan dibuatlah sebuah pondok kecil di luar gua sebagai tempat peristirahatan dan pengobatan bagi Wang. Cheng Ho sendiri yang merebus obat tradisional untuk Wang. Wang mulai membaik sakitnya. Sepuluh hari kemudian Cheng Ho melanjutkan pelayarannya ke barat dengan ditinggalkannya 10 awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang di samping sebuah kapal dan perbekalan-perbekalan. Akan tetapi sesudah sembuh Wang Jinghong menjadi betah tinggal di Semarang. Dipimpinnya 10 awak kapal itu untuk membuka lahan dan membangun rumah. Dimanfaatkannya pula kapal yang disediakan Cheng Ho untuk mereka bila hendak menyusul armadanya.


Kapal itu digunakan Wang untuk usaha perdagangan di sepanjang pantai. Kemudian awak kapalnya berturut-turut menikah dengan wanita setempat. Berkat jerih payah Wang dan anak buahnya, kawasan sekitar gua tersebut berangsur-angsur menjadi ramai dan makmur, sehingga semakin banyak orang Tionghoa yang datang dan bertempat tinggal serta bercocok tanam di sana.
Sebagaimana Laksamana Cheng Ho, Wang Jinghong pun seorang muslim yang saleh. Dia giat menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat di samping diajarkan pula bercocok tanam, dan sebagainya. Demi menghormati Laksamana Cheng Ho yang berjasa, Wang Jinghong mendirikan patung Cheng Ho di gua tadi untuk disembah orang. Konon Wang meninggal dunia dalam usia 87 tahun dan jenazahnya dikuburkan secara Islam. Atas jasanya, Wang diberi julukan sebagai Kiai Juru Mudi Dampo Awang. Makam Kiai Juru Mudi Dampo Awang ini kemudian merupakan salah satu bahan tersendiri dalam kompleks Kelenteng Sam Po Kong.
Sejak saat itu pada tanggal 1 dan 15 tiap bulan Imlek orang berbondong-bondong datang untuk menyembah patung Sam Po Kong di Gua Sam Po dan sekaligus berziarah ke makam Kiai Juru Mudi Dampo Awang.
Untuk memperingati Cheng Ho, dibangun Kelenteng Sam Po Kong. Mula-mula kelenteng itu sangat sederhana. Dalam gua tempat kelenteng itu hanya terdapat patung Cheng Ho semata. Pada tahun 1704 gua itu runtuh akibat angin ribut dan hujan lebat. Peristiwa itu menyebabkan sepasang pengantin tewas tertimbun ketika sedang memuja di situ. Tak lama kemudian gua yang runtuh itu digali dan dipulihkan seperti semula. Kelenteng Sam Po Kong dipugar oleh masyarakat Tionghoa setempat pada tahun 1724.
Pada hari-hari raya, khususnya tanggal 29 (tanggal Lak Gwee atau tanggal 30 menurut pendapat lain) Juni Imlek setiap tahun - hari mendaratnya Cheng Ho di Semarang (atau hari lahir Cheng Ho berdasarkan cerita lain) - diadakan arak-arakan secara besar-besaran.
Pada pertengahan kedua abad ke-19, kawasan Simongan (disebut Gedong Batu) dikuasai oleh Johannes, seorang tuan tanah keturunan Yahudi. Dia menjadikan kawasan itu sebagai sumber keuntungan.
Masyarakat Tionghoa yang hendak sembahyang di Kelenteng Sam Po Kong dikenakan cukai. Karena cukai yang diminta sangat tinggi masyarakat tersebut tidak mampu membayar secana perorangan. Maka dari itu Yayasan Sam Po Kong Semarang mengumpulkan dana sebesar 2.000 gulden sebagai biaya buka pintu kelenteng tersebut untuk satu tahun. Sekalipun cukai tahunan itu kemudian dikumpulkan sampai 500 gulden, tetapi masih cukup mahal bagi masyarakat Tionghoa pada masa itu.
Demi kelanjutan kegiatan penyembahan di Kelenteng Sam Po Kong tanpa membayar cukai yang tinggi, maka masyarakat Tionghoa di Semarang membuat duplikat patung Sam Po Kong yang kemudian diletakkan di Tay Kay Sie (Kelenteng Keinsafan Besar) yang dibangun pada tahun 1771, di Gang Lombok sebuah perkampungan masyarakat Tionghoa di Semarang.
Gara-gara ulah Johannes tersebut, kegiatan penyembahan Sam Po Kong dipindahkan ke Tay Kak Sie. Dan muncullah acara baru dalam perayaan tanggal 29 (atau) 30 Juni Imlek setiap tahun. Patung duplikat itu diarak ke Kelenteng Sam Po Kong untuk mendapat rnukjizat dari patung aslinya yang konon didatangkan dari Tiongkok disertai berbagai alat perlengkapan keagamaan pada abad ke-18. Akan tetapi pada masa penjajahan Belanda arak-arakan tersebut hanya diizinkan sampai di tepi pagar bambu, batasan Simongan milik Johannes.
Gua Sam Po Kong berada dalam kekuasaan Johannes, hal ini telah membuat kesal masyarakat Tionghoa di Semarang, seperti antana lain Oei Tjie Sien, seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Dia bernazar akan membeli kawasan suci itu apabila usahanya mendapat kemajuan besar. Pada tahun Guan Xu ke-5 (tahun 1879) terkabullah keinginan Oei Tjie Sien, ayah dari Oei Tiong Ham, saudagar kaya yang terkenal dengan julukan “Raja Gula” di Indonesia. Dia berhasil membeli persil Simongan dan dipugarlah pula Kelenteng Sam Po Kong di Gedong Batu. Bersamaan itu didirikan sebuah tugu peringatan, yang sampai kini masih terdapat di kompleks kelenteng tersebut. Tugu peringatan itu ditulis dengan huruf Mandarin dan pernah disalin ke dalam bahasa Indonesia dan telah dimuat di majalah Sampoo fonds blad tertanggal 30 April 1938 yang isi lengkapnya sebagai berikut:

Goenoeng Simongan pemandengannja ada begitoe bagoes dan ada satoe tempat jang Sam Poo Tay nDjien Kongtjuow pilih Tanah Soetjie boeat ia poenya perdiyeman.
Satoe pemandengan jang menjenengken Goenoeng-goe¬noeng jang berbaris sekiternja ditepis piering Tanah Simongan, ada seperti petak-petaknja Bentengan jang koeat, dan Tegoeh Santosa. Aer-kali jang men galir dari atas kabawah, ada bagoes dan Djernih sebagi Perak, bertjahaja gilang-goemilang bagoes sekali dipemandengan mata. Pepoehoenan -poehoenan jang soeboer keliatan angker dan menambahken kaindahannja. Dan diperengan satoe Goenoeng disitoe ada keliatan satoe pintoe Batoe, jaitaelah satoe Goowa jang darin sebermoela Sam Poo Kong Tjouw mangoendjoek kasektiannja ditempat yang terseboet. Maka Goowa itoe dapet djoeloekan niama Sam Poo Tong.
Kita orang Tionghoa sekalian, teroetama poela Soedagar ¬soedagar, jang berlajar, jang soedah dapet sawab pendonga banjak Redjeki, dan beroentoengan dari Sam Poo Kongtjouw, karna itoe djadi saben Tjee let, dan Tjap nGo, sama dateng ber¬soedjoet sampiken kepertjaiaannja boeat matoerkan ia poenja trima kasih, sama bersembahjang berdjedjelan dan ramee- ramee sembah Tanah Soetjie itoe.
Goenoeng Simongan! Dahoeloe ada kepoenjakannja seorang Jahoedi tida heran djikaloe saben taoen Ia (orang Jahoedi) , minta persewaannja itoe Tanah jang diboeat Kelenteng Lima-Raroes -Roepiah. Persewaan mana dahoeloe ada Raad Kong Kwan jang saben taoennja memoengoet oewang oeroenan boeat membajar sadjoemlah jang terseboet. Maskipoen dibilang boekan satoe djoemlah jang besar tapi bisa dianggep satoe perkara koerang Hormat bagi kesoetjian, dan bikin koesoet kabetjikan. Kami memperhatiken sekali pada ini hal jang loear biasa, dan soepaja djangan sampee djadi teroes meneroes, maka Kami berdaja oepaja tjari djalan boeat memperbaikin. Atas kesetiaan dan permoehoenan kami, dapetlah sawapnja Sam Po Kongtjouw, begitoe kami poenja keniatan itoe bisa terkaboel. Pada taoen Kie mBauw He Gwee kami soedah beli itoe Tanah.
Dan saklekasnja kami bikin betoel bersihin Timbok-timbok dan mendiriken Pendopo baroe dimoeka Goowa Sam Poo Tay nDjien. Begitoepoen djoega atoer selokan-selokan soepaia orang-orang jang dateng mengoendjoengin bersoedjoet, dapet kagoembiraan, dan selama-lamanja soepaia soeka sembah Tanah Soetjie jang terseboet.
Tjoema koewatir dihari kemoedian orang tida mengetahoei maksoed dan toedjoehan ini, maka perloe dioekir ini Batoebor (Tjiok Pie) sekedar menerangken kami poenja berdaja bisa terka¬boel katoeroetan, dan itoe ada dapet sawab, dan kesaktiannja. Sam Poo Tay nDjien Kongtjouw begitoelah adanja.
Tay Djing Kong Sie nGo Nhie Swee Djoe Kie mBauw.

Taoen Masehi 1879
Toen Tanah Simongan

OEI TJIEN SIEN

Pada tahun 1879 itulah masyarakat Tionghoa di Sernarang menga¬dakan upacara sembahyang yang besar di Kelenteng Sam Po Kong untuk menyatakan rasa terima kasih yang melimpah ruah kepada Sam Po Toa Lang (Tuan Besar Sam Po), karena selarna ini usaha per¬dagangan mereka semakin maju. Kemudian di muka Gua Sam Po Kong dibangun sebuah serambi sebagai tempat berteduh bagi mereka yang sedang berkunjung ke gua itu dan sekaligus dijadikan sebagai tempat beristirahat bagi mereka yang telah usai bersembahyang.
Sehubungan dengan berkurangnya perhatian masyarakat Tionghoa terhadap Kelenteng Sam Po Kong, pada tahun 1930-an Lie Hoo Soen sebagai kuasa untuk mengurus perumahan dan tanah Oei Tiong Ham Concern mengambil inisiatif untuk menggalakkan arak-arakan seperti semula. Dengan dibantu oleh beberapa orang rekannya, didirikanlah Komite Sam Po Tay Djien (Komite Kasim Sam Po). Berkat dorongan komite tersebut arak-arakan berlangsung meriah kembali setiap tahun.
Setelah Oei Tiong Ham, yang memiliki julukan Raja Gula itu meninggal dunia pada tahun 1924, Lie Hoo Soen mengajukan permintaan kepada ahli waris Oei agar tanah di sekitar kelenteng itu diberikan kepada yayasan yang bertugas mengurus kompleks tersebut. Akhirnya permintaan Lie pun terkabul. Sebagai pengelola dibentuklah Yayasan Sam Po Kong.

Wednesday, March 14, 2007

Bagaimana Membangun Komunikasi




Lalu lintas dua arah seringkali menimbulkan kemacetan, terutama di daerah yang padat kendaraan. Tetapi, tidak demikian dengan komunikasi. Komunikasi dua arah justru memperlancar hubungan di berbagai bidang, baik di tempat kerja maupun di rumah. Membangun komunikasi dua arah memang tidak mudah, tetapi siapa tahu dengan menyimak yang berikut, Anda pun bisa melakukannya.

APAKAH PERLU KOMUNIKASI DUA ARAH?

Untuk mengetahui apakah Anda memang perlu membangun komunikasi dua arah, coba jawab beberapa pertanyaan berikut.
· Apakah anak buah atau bawahan Anda sering datang kepada Anda dan secara nyaman menyampaikan ”unek-unek” mereka?
· Apakah Anda dan tim Anda bisa saling menerima kritik tanpa mengambil sikap defensif?
· Apakah Anda tahu rasa frustrasi, masalah, keinginan, minat anggota tim Anda?
· Apakah Anda sering menanyakan pendapat atau masukan dari anggota tim tentang suatu keputusan yang akan Anda ambil?
· Apakah dalam rapat dengan tim, ada kebebasan menyatakan pendapat, memberi usulan dan saran?
Jika sebagian besar jawaban Anda adalah ”tidak”, maka kemungkinan besar Anda perlu membangun komunikasi dua arah. Namun, jika sebaliknya, jawaban Anda kebanyakan adalah ”Ya”, Anda telah memupuk terjadinya komunikasi dua arah, namun tidak ada salahnya untuk menyimak beberapa kendala komunikasi dan usulah strategi komunikasi berikut.

KENDALA KOMUNIKASI
Roger Neugebauer dalam artikelnya ”Communication: A two-way Street” mengungkapkan beberapa kendala yang sering dialami oleh sebuah organisasi dalam berkomunikasi dua arah.
Protectiveness (Perlindungan). Pimpinan seringkali tidak memberitahukan informasi tertentu pada karyawannya atau timnya karena takut akan menyakiti hati karyawan. Alasan lain adalah bahwa pimpinan menganggap bahwa informasi tersebut harus dilindungi, dan bukan untuk konsumsi karyawan karena karyawan tidak akan mungkin mengerti apa yang akan disampaikan. Demikian pula dengan karyawan, mereka sering tidak menyampaikan informasi tertentu kepada pimpinan untuk melindungi dirinya dari tindakan pemecatan atau peringatan. Mereka takut jika informasi disampaikan maka pimpinan akan marah, lalu mendiskreditkan mereka, memberikan penilaian yang negatif terhadap mereka (sehingga berdampak pada kenaikan gaji yang kecil), atau bahkan yang paling ekstrem adalah memecat mereka.
Defensiveness (Pertahanan). Selain menahan informasi, seseorang juga bisa saja tidak mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan). Hal ini terjadi jika mereka sudah membentuk emosi negatif terhadap orang yang memberi informasi, mungkin karena orang tersebut telah merendahkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Hal ini membuat ia merasa ”diserang”, sehingga secara alami, orang yang merasa diserang tersebut membangun benteng pertahanan dengan menahan informasi yang masuk. Ia menganggap informasi tersebut juga akan membuatnya sakit hati. Misalnya saja ada Pak Arief yang memberi komentar kurang baik tentang prestasi seorang anak buahnya. Anak buah Pak Arief cenderung merasa bahwa masukan tersebut ”menyerang” harga dirinya, egonya, dan kualitas kerjanya. Padahal sebenarnya Pak Arief hanya ingin memberikan masukan untuk perbaikan, tetapi masukan ini disampaikan dengan kata-kata yang tidak dipikirkan dulu penyampaiannya. Ketika merasa diserang maka anak buah Pak Arief cenderung akan marah, dan menutup ”telinga” terhadap informasi lainnya yang mungkin saja berguna untuknya (misalnya: informasi mengenai strategi memperbaiki kinerjanya).
Tendency to evaluate (Kecenderungan untuk menghakimi). Jika mendapat informasi dari seseorang mengenai keburukan orang lain, pimpinan cenderung mengambil sikap yang mengevaluasi tanpa mengumpulkan data yang lengkap sebelum berkomunikasi dengan orang yang dibicarakan tersebut. Karena terpengaruh oleh pandangan satu orang, pimpinan langsung membentuk opini tertentu dan mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan orang-orang yang terkait, dan tanpa mengumpulkan fakta lapangan yang cukup. Ini bukanlah merupakan komunikasi dua arah, tetapi komunikasi satu arah, atau bahkan bisa dikatakan bahwa tidak terjadi komunikasi sama sekali.
Narrow perspectives (Perspektif yang sempit). Karena jarang meninjau pekerjaan orang lain, atau keluar dari lingkungan pekerjaan sendiri, seseroang seringkali dibatasi pada cara pandangnya sendiri. Ia tidak mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Pimpinan yang sering mengambil keputusan besar yang menyangkut keputusan keuangan dan strategi operasional secara umum, seringkali tidak mempertimbangkan detail pelaksanaan pekerjaan dan sudut pandang para pekerjaan. Sebaliknya, para karyawan, seringkali hanya melihat suatu masalah dari sudut pandangnya sendiri (kepentingan individunya semata, tanpa mencoba memahami sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda). Sempitnya perspektif inilah yang sering menyebabkan konflik (tiap orang hanya melihat dari sudut pandang sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain). Sebagai contoh, keputusan seorang pemimpin untuk membatasi percakapan telepon selama tiga menit saja, dianggap sebagai keputusan yang tidak populer, apalagi untuk bagian marketing yang sering kali menggunakan telepon untuk berhubungan dengan calon pelanggan atau pelanggan yang ada.
Mismatched expectations. Peter Drucker mengatakan bahwa pikiran manusia seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan ekspektasinya Jika, ternyata informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tersebut cenderung tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang disampaikan. Misalnya: jika dalam rapat-rapat ternyata seringkali tanggapannya tidak diperhatikan, maka karyawan cenderung enggan menyatakan pendapat, karena ia beranggapan percuma saja menyampaikan pendapat, karena biasanya juga tidak ada follow-up-nya. Demikian pula dengan pimpinan, yang sering mendengarkan pendapat karyawan yang dianggapnya tidak relevan dengan keputusan yang akan diambil. Pimpinan tersebut cenderung tidak mendengarkan pendapat dari orang tersebut di waktu-waktu yang berikutnya.
Insufficient time. Alasan lain adalah keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh. Karena kegiatan rutin yang harus diselesaikan dengan segera, seringkali waktu berkomunikasi dilupakan, atau komunikasi dilakukan dengan tergesa. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada orang lain pun tidak lengkap. Dampaknya adalah orang lain hanya menerima sebagian informasi (tidak utuh), sehingga ada kemungkinan informasi tersebut salah dipahami.

MEMBANGUN KOMUNIKASI DUA ARAH
Setelah memahami berbagai kendala yang menghambat terjadinya komunikasi dua arah, kita akan lebih mudah untuk menyusun strategi guna membangun komunikasi dua arah tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba.
Mendengar. Dalam komunikasi dua arah, ada yang berbicara, dan ada yang mendengar. Yang sering terjadi adalah tiap pihak saling menunggu kesempatan untuk berbicara tanpa meluangkan waktu untuk mendengar apa yang disampaikan pihak lain (karena ia sibuk menyiapkan apa yang akan disampaikan). Seringkali, banyak permasalahan dapat terselesaikan justru bukan karena seseorang menjadi pembicara yang handal, melainkan karena ia bersedia memahami orang lain dengan cara mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan (keluhan, masalah, keinginan, harapan). Informasi yang didengar inilah yang bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah.
Terbuka. Untuk mendorong tiap pihak untuk saling terbuka, seorang pimpinan hendaknya tidak menghukum orang yang menyampaikan pendapat, masalah, atau perasaannya. Keterbukaan bisa juga dibuatkan wadahnya, yaitu melalui bulletin board, kotak saran, atau media antarkaryawan. Karyawan yang menyampaikan pendapat atau ide yang bisa dimanfaatkan perusahaan, bisa diberikan hadiah, atau penghargaan. Demikian juga dengan karyawan yang bisa mengidentifikasi atau mengantisipasi masalah serta mengusulkan alternatif pemecahannya.
Menyamakan persepsi. Komunikasi dua arah sering terhambat karena adanya perbedaan persepsi terhadap suatu masalah. Dengan demikian, dalam berkomunikasi, ada baiknya disampaikan juga latar belakang pemikiran dari ide yang disampaikan, sehingga orang lain juga bisa memiliki persepsi yang sama, berangkat dari persepsi yang sama, atau paling tidak memahami persepsi orang yang menyampaikan informasi tersebut. Jika pemahaman sudah tergalang, maka komunikasi dua arah akan lebih mudah mengalir.
Komunikasi empat mata. Banyak juga karyawan yang enggan menyampaikan pendapat karena sungkan berbicara di hadapan banyak orang, padahal mungkin saja karyawan tersebut memiliki ide yang brilian. Seorang pimpinan bisa mencoba melakukan komunikasi dua arah terhadap anak buahnya secara regular untuk memahami kebutuhan, ekspektasi, masalah mereka. Dengan komunikasi empat mata, bawahan mungkin saja lebih nyaman menyatakan pendapat atau menyampaikan permasalahan yang ditemuinya di lapangan. Jadi, komunikasi empat mata penting untuk dilakukan dengan lebih sering, tidak hanya ketika melakukan evaluasi kerja tahunan.
Ada banyak cara untuk membangun komunikasi dua arah, beberapa di antaranya baru saja kita bahas bersama. Mungkin Anda bisa memilih mana yang paling cocok untuk Anda, atau mengkombinasi beberapa strategi untuk mencapai komunikasi dua arah dengan lebih mudah, dengan hasil yang lebih baik.